Di dalam laut kesadaran, yang penuh dengan kehampaan, Leena memandang sosok Dewi Api yang kembali bermeditasi. Leena memejamkan matanya dan fokus untuk kembali ke dunia nyata.

Dalam sekejap, kesadaran Leena perlahan kembali.

Matanya terbuka pelan. Sakit terasa di sekujur tubuhnya. Nafasnya berat, tubuhnya lemas tak berdaya. Efek jurus-jurus yang dikeluarkan oleh dewi api,Yan Ruyan, memberikan beban yang sangat besar untuk tubuhnya.

"Leena!" seru Lynx cepat menghampiri.

"Jangan bergerak dulu. Kau masih perlu istirahat, tubuhmu kehabisan qi, biarkan energi spiritual ditempat ini memulihkanmu." kata Lynx sambil menopangnya. Dengan lembut, Lynx membelai menyibakkan rambut di wajah Leena dan membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Lynx memberikan satu pil pemulihan lagi untuk mempercepat pemulihan kondisi Leena.

Leena merasakan sensasi hangat mengaliri tubuhnya, dia kembali memejamkan mata. Selain karena pil yang mempercepat penyerapan qi spiritual, hatinya juga menghangat menerima perlakuan dan perhatian dari Lynx. Di balik kelopak matanya, samar-samar ia seperti mendengar tawa lembut Yan Ruyan yang kembali tenggelam dalam meditasinya.

Beberapa saat kemudian, Leena perlahan membuka matanya kembali dan merubah posisi duduk. Tubuhnya sudah terasa lebih bertenaga, ditambah kehangatan dari energi spiritual dunia kecil itu membuatnya menjadi lebih nyaman.

Lynx bangkit dan dengan tenang duduk di sisi ranjang. Wajahnya masih terlihat kekhawatiran. "Sayang… bagaimana kondisimu?"

Leena tersenyum dan menjawab pelan,"Kondisiku sudah membaik. Terimakasih sudah merawatku." Hatinya terasa berbunga karena Lynx memanggilnya dengan sebutan sayang. Karena suku Surya belum ditemukan, dia dan Lynx merasa tidak enak bersikap mesra-mesraan di depan rekan mereka yang lainnya sehingga Leena sering melarang Lynx memanggil atau bersikap terlalu mesra di depan yang lainnya, terutama di depan Jelita. Leena tahu bagaimana perasaan Jelita selama ini terhadap Lynx. 

Namun sejak dia mengetahui Yan Ruyan bisa mengetahui apa yang terjadi di luar, dia merasa salah tingkah dan malu.

Ekpresi wajah Lynx berubah menjadi lebih serius,"Sayang, aku ingin bertanya kepadamu."

Leena menoleh pelan dengan rasa penasaran. Ekpresi Lynx membuat jantung Leena berdebar lebih kencang, "Apa itu?"

"Sejak kapan sayang memiliki kekuatan seperti itu? Kekuatan yang sayang gunakan sangat berbeda dengan terakhir kali menggunakannya untuk bertarung." tanya Lynx tanpa basa-basi. "Dan jurus yang di gunakan terakhir… aku belum pernah melihatnya, bahkan leluhur sekte Api Langit tidak menggunakannya saat melawanku. Dari mana kamu mendapatkannya?"

Leena terdiam sejenak. Matanya menerawang, mengingat seluruh kejadian dalam pertarungan yang di perlihatkan oleh Yan Ruyan. Meski bingung bagaimana Lynx tidak menyadari bahwa tubuhnya di kendalikan oleh Yan Ruyan bahkan bisa menggunakan jurus andalannya, namun Leena tidak ingin Lynx menyadari bahwa seseorang mengendalikannya.  

Dia juga ingat bagaimana Yan Ruyan membuat Lynx terlempar jauh akibat serangan yang di berikannya. Namun bukan hanya ingatan pertarungan itu yang muncul… ia juga mengingat perkataan Yan Ruyan, di alam Surgawi, kekuatan seperti Lynx itu biasa saja… banyak yang jauh lebih kuat."

Pikiran itu membuat hatinya mencelos. Jika benar apa yang dikatakan Yan Ruyan, berarti suatu hari nanti Lynx bisa saja bertemu dengan lawan yang jauh lebih berbahaya. Leena ingin memberi tahu Lynx agar dia bersiap-siap dan berlatih untuk meningkatkan kekuatan namun dia hanya bisa menggertakkan gigi. Dia tak ingin Lynx terluka atau terbunuh hanya karena tak menyadari betapa luasnya bahaya di luar sana, namun ia  juga tidak bisa menceritakan tentang roh dewi api yang berada dalam tubuhnya, belum saatnya. Belum sekarang.

"Sayang, kamu kenapa?" Lynx merasa khawatir melihat Leena terdiam. Dia sangat menyayanginya, dan keberadaan Leena yang membuatnya mampu bertahan hingga saat ini.

Leena menatap Lynx, lalu menghela napas panjang. "Itu… jurus rahasia yang diberikan ayahku Ling Juan. Karena mengira aku adalah Ling Mei, dia mewariskan jurus rahasia tersebut dan berpesan agar boleh digunakan hanya saat ranahku sudah di immortal atau terdesak. Karena penasaran, aku ingin mencobanya karena aku berpikir sayang pasti bisa menahannya." Leena berusaha bersikap wajar, dia tidak ingin Lynx menyadari kebohongannya.

Setelah diam sejenak, Leena melanjutkan."Saat bertarung, aku tidak berani menggunakannya karena aku tidak mengetahui seberapa besar pengaruhnya serangan itu terhadap mereka dan terhadapku sendiri."

Lynx menatap tajam kearah Leena, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Leena, namun Lynx menghargainya. Dia tidak akan bertanya lebih banyak dan yakin suatu saat Leena pasti akan menceritakannya. Selain itu Lynx juga mencemaskan hal lain saat ini. Saat keluar dari pagoda Qingling dan bersiap memasuki dunia kecil, Lynx merasakan terjadi perubahan di alam dunia nyata namun Lynx mengabaikannya karena ingin melihat Isha, namun kini Lynx bisa memperkirakan apa yang sebenarnya terjadi, petir kesengsaraan. 

Saat Leena menjadi grandmaster, seharusnya dia menghadapi petir kesengsaraan, namun di dimensi lain, hal itu tertunda. Dan kini Leena harus menghadapinya. Dalam keadaan biasa, petir yang harus di hadapi bukanlah hal yang mengkhawatirkan, berbeda dengan tingkat immortal, namun kini kondisi Leena sedang dalam keadaan lemah, Lynx yakin petir kesengsaraan yang muncul tidak mampu di hadapi oleh Leena.  

Menyadari Leena menatapnya, Lynx mengangguk pelan dan berkata lembut. "Tetua Ling Juan ya… jurus yang luar biasa, aku rasa jurus itu bukan berasal dari sekte api langit karena kekuatan yang dikeluarkan sangat berbeda. Sayang harus merahasiakannya."

"Dengan jurus ini, seharusnya bisa dia gunakan untuk menjaga dirinya dengan lebih baik," pikir Lynx. "Tetapi untuk dapat menggunakan jurus itu dengan baik, dia harus melatih tubuhnya dengan lebih baik, bukan hanya kekuatan spiritual tetapi juga kekuatan fisik. Jika tidak... dia akan kehabisan tenaga hanya dengan satu jurus itu. Tapi meski begitu… ini sudah cukup untuk melindungi dirinya saat keadaan mendesak."

Ia memandangi Leena dengan perasaan campur aduk, kekaguman, rasa bersalah, dan juga sedikit kelegaan.

"Aku bersyukur mengurangi kekuatan fisikku saat bertarung tadi, jika tidak, benturan kekuatan yang terjadi bisa melukainya dengan parah" batin Lynx.

"Sebaiknya sayang segera meditasi untuk mempercepat memulihkan diri. Kita akan segera keluar dari tempat ini begitu kondisi sayang membaik." kata Lynx dengan lembut. Untuk memulihkan kondisi fisik, Lynx mampu memperbaiki dengan energi saktinya, namun untuk dapat memulihkan energi spiritual, Lynx belum mampu melakukannya karena qi spiritual yang dimilikinya terbatas. Lynx tidak pernah menyerap energi qi spiritual karena merasa tidak memerlukannya dan cukup hanya berada di ranah forging qi.

Lynx menatap wajah Leena yang sudah terlihat lebih cerah, dan tampak lebih tenang. Ia menunduk perlahan, mendekatkan wajahnya… lalu mengecup bibir Leena dengan lembut dan penuh kasih. Tangannya mengelus rambut Leena perlahan, jemarinya menyusuri helai demi helai seolah tak ingin kehilangan momen itu.

Wajah Leena langsung memerah. Meskipun ia dan Lynx sudah sering berbagi keintiman lebih dari sekadar ciuman, namun perhatian kecil seperti ini, yang tulus dan tenang, selalu berhasil membuat jantungnya berdebar. Pipinya merona, dan ada senyum malu-malu yang tak bisa ia sembunyikan.

"Kenapa aku begini…?" batin Leena. Hatinya berbunga-bunga. Ia tahu Lynx bukanlah pria yang pandai memanjakan wanita dengan kata-kata atau perlakuan romantis. Bahkan terkadang ia curiga… pria itu mungkin belum pernah berpacaran sebelumnya. Tapi justru itu yang membuat setiap tindakan Lynx begitu berarti.

Melihat rona merah di wajah Leena, Lynx mengernyit heran. Ia menyentuh dahinya, memeriksa suhu tubuhnya. "Sayang… kamu sakit? Wajahmu merah. Apakah ada yang terlewatkan untuk aku periksa?"

"Tidak-tidak, aku baik-baik saja." Jawab Leena cepat. Wajahnya memerah malu. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi hatinya terasa ringan.

Tepat saat itu, pintu kamar diketuk pelan dan terbuka. Isha muncul sambil membawa mangkuk bubur panas di tangannya. Wajah gadis kecil itu cerah, seolah ingin membantu.

"Ini… bubur buat Kak Leena," katanya ceria. "Kak Lynx yang bikin lho."

Leena menoleh lemah ke arah Isha, tersenyum hangat. Hatinya semakin hangat mendengar bahwa Lynx sampai memasak untuknya.

Isha meletakkan bubur di meja kecil di samping ranjang, lalu memiringkan kepalanya, memandang mereka bergantian.

"Kak Leena," ucapnya tiba-tiba, polos, "Kak Lynx ini… pacar kakak ya?"

"Isha..." Leena tambah tersipu dengan pertanyaan polos dari Isha."Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Aku melihat kak Lynx sangat perhatian sama kak Leena, jadi ingat sama ibu dan ayah yang saling menyayangi." jawabnya pelan, matanya terlihat agak basah mengingat kedua orang tuanya.

Lynx mengelus rambut Isha, dia merasa bingung harus berkata apa untuk menghibur gadis kecil tersebut. Ingatan Lynx melayang teringat kedua orang tuanya."Gadis ini... selamanya tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Apakah aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku..." batinnya sambil menghela napas panjang.

Mendapat perhatian dari Leena membuat Isha tampak senang, dan entah kenapa merasa lebih tenang setelah Lynx mengelus kepalanya. Ia kemudian memilih duduk diam di sudut ruangan, menatap Leena yang mulai di suapi bubur oleh Lynx.

Dan di antara mereka bertiga, waktu seolah melambat…

